Tugas Misdinar Pertama Putri Kami

Hari ini adalah hari yang bersejarah bagi putri kami. Dia, untuk pertama kalinya, melayani di gereja sebagai misdinar. Tentu ini adalah sebuah kebanggaan baginya, dan tentu saja, juga bagi kami orangtuanya. Dia sangat menanti-nanti momen ini. Keresahannya nampak dalam excitement dan juga gejala gugup yang tak sanggup dia tutup. Ada tanda tanya besar yang dibawanya serta saat berangkat ke gereja pagi ini: apakah semuanya akan baik-baik saja?

Melayani Tuhan bukanlah sebuah konsep yang jauh atau abstrak bagi putri kami. Sejak kecil, dia kami perkenalkan dengan apa saja yang bisa kita lakukan untuk melayani Tuhan. Dia juga tahu bahwa Papanya sering terlibat aktif di kegiatan Gereja. Saat liburan di rumah kakek dan neneknya yang sangat dekat dengan gereja, dia juga melihat orang-orang yang dia kenal bertugas atau ambil bagian dalam kegiatan gereja. Salah satu motivasinya bermain alat musik juga untuk suatu saat bisa melayani dengan cara itu.

“Akhirnya!” Mungkin itu yang terucap sesaat setelah Misa selesai pagi tadi. Ucapan itu sebenarnya terucap juga dalam hati kami orangtuanya. Bukan pertama-tama karena dia akhirnya bertugas, tetapi lebih kepada betapa berharganya pengalaman pertama itu baginya. Akhirnya, dia mengalaminya. Akhirnya, perasaan ragu-ragu dan menakutkan soal “apakah gerakan ini benar?”, “kemanakah setelah ini?”, “aduh, seharusnya tadi gak begitu!” itu dilaluinya dengan begitu dekat tanpa sekat. Dia pasti belajar bahwa apa yang selama ini dilihatnya dengan sangat biasa, sesungguhnya saat dilakukannya sendiri menjadi luar biasa. Gelisah, takut salah, panik hanyalah bagian-bagian kecil dari besarnya pengalaman pertama itu.

Yang dia tidak tahu, kegelisahan itu sebenarnya bukanlah miliknya seorang diri pagi tadi. Kami juga gelisah. Saya tidak tahu apa yang dirasakan oleh orangtua-orangtua lain saat anak mereka pertama kali bertugas sebagai misdinar di gereja. Mungkin biasa saja. Tapi mungkin ada yang seperti kami. Mungkin yang kami alami tidaklah mewakili orangtua-orangtua lain. Tapi kegelisahan itu nyata. Bukan karena tidak percaya kepada anak, tetapi lebih kepada kegelisahan pada pengetahuan bahwa pengalaman pertama itu tekanannya seperti apa. Kami berserah pada Tuhan, dan kami percaya bahwa dia juga.

Yang dia mungkin tidak tahu, betapa terharunya kami! Melihat dia berjalan dengan membawa lilin perarakan itu dengan sangat hati-hati, duh, betapa baiknya Tuhan! Saya tidak tahu apakah istri saya juga mengalami ini, tetapi mata saya berkaca-kaca. Betapa tangan mungil yang gemar memegang erat jari saya saat dia masih bayi, kini memegang erat tongkat lilin perarakan itu! Tuhan baik, karena Dia memberi kami seorang putri yang mau belajar melayani. Tuhan baik, karena kami diberinya kesempatan untuk menyaksikan sukacita iman ini.

Masak sih, perkara bertugas sebagai misdinar ini aja sebuah sukacita iman? Bagi saya, iya! Mungkin bagi beberapa orang ini biasa saja. Tapi, jika saja semua orang menyadari dan menghayati siapa yang sesungguhnya dilayani di altar itu, maka perkara misdinar ini adalah perkara yang luar biasa. Selain imam, saat Misa, siapa yang bisa berada paling dekat dengan Sang Sabda yang menjelma menjadi Daging itu? Saya jadi teringat akan sosok Maria yang memilih untuk berada di dekat kaki Tuhan saat Dia sedang berbicara (Lukas 10:38-42). Semoga pagi tadi, dia telah berhasil memilih bagian yang terbaik yang tidak akan diambil dari padanya!

Selain itu, sebenarnya tugas pertama ini tidaklah dengan mudah dia dapatkan. Setelah bergabung dengan tim Misdinar Paroki pertengahan Juli kemarin, baru hari ini dia mendapatkan tugas untuk melayani sebagai misdinar. Sesungguhnya minggu lalu dia pertama kali dijadwalkan. Namun, karena sakit, dia harus merelakan pengalaman pertama itu diundur seminggu. Yang menarik, saat sakit pun, dia berusaha meyakinkan Mamanya bahwa dia akan kuat saat bertugas dan tidak perlu mengabari kakak pembina misdinar. Feeling Mamanya sangat kuat, malam itu sakitnya diperparah dengan demam dan esoknya bahkan dia tidak bisa ke gereja. Untungnya kakak pembinanya berbaik hati memberinya kesempatan untuk bertugas pagi tadi.

Menunggu itu memang tidak menyenangkan. Dan sepertinya pengalaman menunggu itu telah menjadi pengalaman yang baik buat putri kami. Minggu demi minggu dia rajin mengikuti latihan misdinar. Hanya ketika sakit atau saat mengikuti kegiatan gereja lain dia tidak bisa hadir latihan. Namanya tidak kunjung terpilih untuk bertugas. Apakah dia sedih? Tentu saja. Dan itu wajar. Kami berusaha menenangkannya. Akan tiba waktumu, begitu kami menghiburnya. Sejujurnya kami mulai khawatir bahwa dia akan patah arang. Dan di usianya yang baru 11 tahun, kami tahu bahwa tidak semudah itu meregulasi  perasaan-perasaan yang timbul. Apalagi saat dia tahu, bahwa dalam periode yang sama, ada teman seangkatannya yang telah berulang kali bertugas. Tentu terbit tanya dalam hatinya, apa ada yang salah dengan saya?

Untuk memastikan kondisinya, Mamanya mencoba menggali suasana batinnya. Mamanya bertanya, “Bagaimana kalau seandainya kamu tidak dipilih juga untuk tugas, apa kamu masih mau ikut latihan?” Sejujurnya saya juga penasaran dengan jawabannya. Di luar ekspektasi saya, dia menjawab kurang lebih begini: “Meskipun tidak dipilih, saya akan tetap ikut latihan misdinar. Saya mau tahu, menjadi misdinar itu seperti apa.” Sebagai Papanya, saya sedih tetapi bangga di saat yang sama. Saya tahu dia memendam kecewa, tetapi sepertinya dia melihat mutiara terpendam di sana. Ya, mutiara yang bahkan kami pun mulai meragukan keberadaannya saat itu. Dia jauh lebih kuat dari yang kami duga.

Menunggu untuk melayani ini memang seharusnya layak untuk dialami. Kami sendiri mengimani peristiwa ini sebagai pengalaman iman yang berharga. Selama ini, putri semata wayang kami mungkin terlalu mudah dan instan untuk mendapatkan apa yang dia kehendaki. Namanya juga anak tunggal. Sekeras apa pun kami mencoba, pasti proses menunggu yang dialaminya di rumah tak selama itu. Dia seharusnya belajar dari pengalaman ini bahwa tidak semua yang dia inginkan bisa terjadi; tidak semua yang seharusnya terjadi bisa terlaksana. Dan tentu saja, waktu Tuhan selalu yang terbaik. Tuhan paling tahu kapan kita siap; Tuhan paling tahu mengapa waktu tertentu adalah yang paling jitu!

Semoga pengalaman yang saya bagikan ini, dengan caranya sendiri, dapat berguna bagi siapa saja yang dijangkaunya. Setidaknya, bagi saya, ini adalah tulisan kenangan untuk tugas misdinar perdana putri kami. AMDG. Ad Majorem Dei Gloriam. Demi semakin besarnya kemuliaan Tuhan.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top