Berapa sih jumlah kitab dalam Alkitab? Mengapa ada yang bilang 66, ada juga yang mengklaim 72? Teman-teman protestan akan keukeuh dengan jawaban mereka: 66! Sedangkan yang Katolik akan bilang 72. Solusi yang paling sering ditawarkan, biasanya adalah dengan memaklumi bahwa yang 66 adalah Alkitab protestan, sedangkan yang 72 adalah Alkitab Katolik. Pembedanya adalah kitab-kitab Deuterokanonika. Tapi sekarang kita tidak akan fokus kesana. Kita mau masuk ke hal yang lebih mendasar: Siapa yang menentukan jumlah kitab-kitab itu? Siapa yang ‘boleh’ menentukan bahwa kitab A masuk list Alkitab, sedangkan kitab B tidak?
Bagi orang Katolik, pertanyaan ini seharusnya tidak sulit untuk dijawab. Katekismus Gereja Katolik 120 mengatakan: “Dalam tradisi apostolik, Gereja menentukan kitab-kitab mana yang harus dicantumkan dalam daftar kitab-kitab suci. Daftar yang lengkap ini dinamakan “Kanon” Kitab Suci. Sesuai dengan itu Perjanjian Lama terdiri dari 46 (45, kalau Yeremia dan Lagu-lagu Ratapan digabungkan) dan Perjanjian Baru terdiri atas 27 kitab.” Dengan kata lain para pemimpin Gerejalah, yang dalam hal ini adalah para penerus para rasul, yang menentukan kitab-kitab itu. Orang lain, siapa pun dia, tidak memiliki wewenang untuk mengatur ulang kitab-kitab itu. Bayangkanlah jika tiba-tiba besok tampil si A dengan kepentingannya sendiri, lalu mengatakan bahwa surat Yakobus tidak masuk dalam daftar Alkitab karena mengajarkan “Iman tanpa perbuatan adalah mati”. Apa yang akan terjadi? Pemahaman yang tidak utuh akan ajaran Kristus! Seakan dia lebih tahu daripada Santo Yakobus yang benar-benar hidup pada zaman Kristus dan mendengar langsung dari-Nya. Jika sejak awal setiap orang, tanpa tradisi apostolik, berhak menentukan kitab mana yang masuk dalam Alkitab, mungkin saat ini tidak ada lagi Alkitab. Setiap orang akan menganggap ‘Alkitabnya’, yang isinya adalah kitab-kitab yang sesuai dengan seleranya masing-masing, yang paling benar. Akhirnya, jika itu terjadi, Alkitab akan kehilangan wibawanya sebagai Sabda Allah karena orang-orang terlalu bising memperdebatkan yang mana Sabda Allah dan yang mana bukan!
Menjadi lebih menarik, ketika saudara-saudara protestan kita berpegang pada satu prinsip yang dikenal dengan istilah “Sola Scriptura”. Sola ScripturaÂini adalah dua kata dalam bahasa Latin yang bisa diterjemahkan “Hanya Alkitab”. Secara paling sederhana, prinsip ini berarti berpegang teguh pada Alkitab; hanyalah apa yang tertulis di Alkitab yang bisa diterima sebagai ajaran iman. Uniknya, prinsip ini muncul setelah mantan Romo biarawan Martin Luther memisahkan diri dari Gereja Katolik dan kemudian memutuskan bahwa beberapa kitab tidak lagi menjadi bagian dari Alkitab. Itulah mengapa Alkitab protestan hanya berisi 66 kitab. Yang menjadi pertanyaan, atas wewenang apa beliau melakukan itu? Tradisi apostolik? Bukan. Tradisi Apostolik telah lebih dari 1000 tahun sebelumnya menentukan kanon Alkitab. Terus atas dasar Sola Scriptura? Di kitab apa tertulis bahwa kitab-kitab yang ditolak itu harus ditolak? Jika tidak ada, bukankah ‘perombakan’ kitab-kitab itu adalah sesuatu yang justru tidak Sola Scriptura? Sampai sekarang terdapat banyak sekali pembelaan tentang problem ini, yang mana semuanya tidaklah Sola Scriptura.
Sebenarnya, Sola Scriptura ini memang problematik. Saat melihat makna katanya sih kedengaran bagus banget. Apa-apa harus kembali ke Alkitab. Kasarnya begitu. Permasalahan muncul karena ada kata Sola itu. “Hanya”. Mengapa? Ya karena kekristenan itu, Gereja itu, ada bahkan sebelum Alkitab itu lahir! Kalau prinsip Sola Scriptura itu benar, bagaimana dengan Gereja sebelum kanon Alkitab (daftar resmi Alkitab) itu ada? Apa itu berarti Gereja waktu itu tidak memiliki tuntunan iman yang benar? Kalau mereka tidak memiliki tuntunan iman yang benar, mengapa kita harus percaya pada warisannya (baca: Alkitab)? Untuk kamu yang belum paham, tolong jangan dibayangkan bahwa Alkitab itu sudah ada terlebih dahulu sebelum Gereja Perdana atau Gereja Mula-mula ya. Gereja itu lahir terlebih dahulu, dalam peristiwa Pentakosta, dan sekitar 300 sampai 400 tahun kemudian, barulah para Bapa Gereja dalam tradisi Apostolik itu merampungkan kanon Alkitab, yang kita warisi hingga sekarang. Bagi saudara-saudara protestan, warisan itu sudah berkurang beberapa kitab karena telah ditolak oleh mantan Romo biarawan Martin Luther. Jika kebenaran iman “hanya” bisa ditemukan dalam Alkitab, maka apakah Gereja sebelum Alkitab ada tidak memiliki kebenaran? Jika Gereja sebelum Alkitab ada dapat memiliki kebenaran iman, maka bukankah kebenaran iman itu tidak “hanya” ditemukan dalam Alkitab?
Mungkin keresahan inilah yang membuat seorang Apologet Katolik bernama Jimmy Akin menulis sebuah buku yang berjudul “The Bible Is a Catholic Book” yang bisa diterjemahkan “Alkitab adalah sebuah Buku Katolik”. Judul buku ini mungkin terlihat sangat berani, dan pastinya tidak disetujui oleh saudara-saudara protestan. Namun, jika melihat sejarah bagaimana Alkitab itu “disatukan dan diresmikan” oleh tradisi Apostolik, maka judul buku itu bukanlah sebuah fakta baru yang mencengangkan. Sampai saat ini, Gereja Katolik masih berpegang teguh pada tradisi Apostolik dan Alkitab adalah salah satu warisan terindahnya!
